ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
Era sudah berubah. Mengakses informasi dan hiburan semudah dan
secepat kedipan mata. Saking mudahnya, apa saja sudah tersaji di depan
mata sehingga sebagi pencari informasi harus jeli memilih. Apalagi
menjadi orangtua dengan anak kecil yang masih berproses menerima akses
informasi melalui tontonan televisi.
Terdapat beragam film kartun, namun tidak semua film kartun
diperuntukkan untuk anak-anak. Tanpa didampingi orangtua, sebagai bibit
kecil yang polos tentu tidak akan bisa menyaring tontonan yang layak
atau tidak. Semua mengalir masuk ke otaknya dan berproses bersama tumbuh
kembangnya.
Orangtua harus bekerja ekstra keras dalam mengawasi apa yang ditonton
si buah hati. Kualitas tontonan tersebut dapat mempengaruhi moralitas
serta pola pikir. Tak hanya memilihkan film yang cocok, terkadang
sebagai orangtua harus mendampingi ketika film itu berputar.
1. Nihil konten kekerasan dan kata-kata kasar
Pastikan film yang akan ditonton oleh si buah hati tidak mengandung
kekerasan beserta kata-kata kasar. Anak-anak sebagai peniru yang baik
yang masih belum bisa memfilter segala informasi yang masuk ke otaknya
akan meniru adegan dan kata-kata dalam film favoritnya.
Beberapa kasus menunjukkan karena kurangnya pengawasan orangtua,
anak-anak yang menonton film dengan adegan kekerasan berpotensi
mencelakai temannya. Padahal maksud si anak hanya ingin berperan seperti
tokoh dalam film yang ditontonnya. Akan tetapi, dalam dunia nyata akan
menjadi tindak kekerasan yang jika dibiarkan akan mengakar hingga
dewasa.
2. Menambah kecerdasan dan kreativitas
Pilihlah film pendek yang berdurasi tayang tak lebih dari 1 jam.
Lihat pula isi ceritanya, apakah layak ditonton untuk anak-anak atau
tidak. Tak harus film mikir, karena film untuk si buah hati adalah film
sederhana yang mampu membangun kecerdasan dan kreativitasnya.
Anak sering menanyakan hal yang tidak masuk akal dalam film. “Ummi,
mengapa kucing bisa hidup di air?” Hal yang perlu ditekankan adalah
memberi pemahaman bahwa hal itu hanya terjadi pada film dan tidak ada di
dunia nyata. Karena otaknya yang belum berkembang, anak dengan mudah
berpikir bahwa cerita-cerita film yang ia tonton itu benar-benar terjadi
di dunia nyata.
Contoh film yang mengajari anak turut serta bepikir untuk melatih
kecerdasan seperti Dora The Explorer, menghitung angka dan menemukan
lokasi pada peta. Wall E, sebuah film tentang robot yang membersihkan
bumi. Hal ini mengajarkan pada si kecil untuk cinta kebersihan
lingkungan dengan membuang sampah sembarangan.
Film lama dan masih layak tonton adalah Teletubbies, berlatar di
bukit Tubi dengan tokoh warna-warni dan lucu penuh edukasi kreatif yang
mengajak anak-anak untuk berkreasi membuat sesuatu yang sederhana dan
menyenangkan.
3. Memiliki cerita yang mengandung pesan moral
Menduduki unsur penting diantara ragam film berbau positif yaitu film
yang memiliki pesan moral. Sebagai peniru yang baik, anak-anak akan
dengan mudah menyerap setiap sikap dan perilaku sang tokoh. Apalagi
pesan moral tersebut disampaikan dengan gaya guyon dan komedi khas
anak-anak. Sehingga pesan halus dalam film dapat tersampaikan dengan
baik.
Upin-ipin, contohnya. Film keluaran Malaysia yang di dalamnya
terdapat unsur-unsur pengetahuan dan pengajaran juga terdapat pesan
moral yang layak tonton. Atau film kartun Indonesia, Adit Sopo Jarwo,
edukasi moral sangat menonjol. Finding Nemo, mengajarkan betapa orangtua
harus memiliki jiwa besar atas pilihan anak-anaknya.
4. Film Lulus Sensor
Sebelum menonton film yang cocok untuk si buah hati, pastikan film
tersebut telah lulus sensor. Terkadang meski lulus sensor pun, untuk
menonton film tersebut juga harus didampingi oleh orangtua. Label BO
(Bimbingan Orangtua) mengharuskan para orangtua mendampingi anak-anak
mereka dalam mencerna setiap pesan dalam cerita film.
Jangan sekali-sekali menyuapi otak anak dengan tayangan sinetron.
Program televisi yang tak hanya tak ada nilai edukasinya baik bagi orang
dewasa juga akan lebih tak ada faedahnya bagi anak-anak. Akan lebih
bermanfaat jika para orangtua menyetel acara tentang hewan-hewan seperti
National Geographic Wild Life, petualangan bocah seperti si Bolang dan
MTMA kids.
Jadilah orangtua yang cerdas dan bijak dalam memilih tontonan yang
layak bagi anak-anak. Sebab anak pada akhirnya akan menjadi dewasa dan
berperan penting sebagai penerus bangsa.
sumber : http://muslimahdaily.com/lifestyle/parenting/item/1174-agar-anak-terhindar-dari-bahaya-televisi.html
Gambar : kompasiana.com

0 Response to "Agar Anak Terhindar Dari Bahaya Televisi "
Post a Comment