ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
![]() |
| Jangan Terlena ‘Teduhnya’ Rumah Mertua Hingga Lupa Bangun Rumah Sendiri |
Kebutuhan papan atau tempat tinggal, tidak dapat
disangkal lagi, merupakan salah satu kebutuhan pokok yang harus dipenuhi
setiap orang agar dapat hidup layak dan nyaman
Namun, tidak semua orang mampu memenuhi kebutuhan tersebut seketika
dengan keringatnya sendiri kendati sudah berkeluarga bahkan telah
beranak pinak.
Sebagian orang mungkin masih tinggal di rumah orangtua atau mertua.
Ada yang terpaksa menumpang karena belum mampu membeli rumah, ada pula
yang memilih tinggal bersama orangtua karena alasan khusus. Sebagian
yang lain, mungkin masih menikmati tinggal di rumah dinas.
Nah, apakah Anda termasuk salah satu dari kelompok tersebut? Tinggal
di rumah orangtua atau di rumah dinas, boleh jadi terasa nyaman-nyaman
saja bagi Anda hingga kini. Namun, ada baiknya Anda mulai berpikir lebih
jauh untuk tinggal di rumah sendiri.
Rumah dinas ada batas pakainya. Ketika kelak tiba-tiba Anda terkena
pemutusan hubungan kerja (PHK), jatah rumah dinas tentu ikut hilang.
Di sisi lain, bernyaman-nyaman tinggal di rumah orangtua setelah
menikah juga sejatinya kurang bijak. Bagaimanapun, memutuskan
berkeluarga berarti Anda siap hidup mandiri.
Budi Raharjo, perencana keuangan OneShildt Financial Planning,
menilai, ketika kita masih tinggal di rumah dinas atau menumpang rumah
mertua, acapkali kita terlena alias terlalu nyaman sehingga lupa dengan
kebutuhan atas rumah pribadi.
Maklum, menumpang tinggal di rumah dinas dan rumah mertua kebanyakan
gratis. Kalaupun ada pengeluaran terkait rumah seperti listrik atau air,
sifatnya adalah pengeluaran operasional yang nominalnya relatif tidak
besar.
Gaya hidup masih belum terpapas penghematan, tiba-tiba anak pertama
lahir disambung anak berikutnya. Alih-alih menyisihkan penghasilan untuk
pembelian rumah, kocek Anda mungkin sudah keburu kering dibelanjakan
demi memenuhi kebutuhan sehari-hari dan tuntutan gaya hidup.
Jika sudah begitu, bukan mustahil hingga usia senja kelak, Anda tidak
juga mampu memiliki rumah sendiri meski penghasilan dan gaya hidup
terbilang besar.
Jangan tunda lagi
Jangan tunda lagi
Anda tentu tidak ingin cerita akhir seperti itu terjadi.
Bagaimanapun, tinggal di rumah yang dibeli dengan keringat sendiri akan
terasa lebih nyaman dan membanggakan.
Bila demikian, saatnya bagi Anda untuk mulai memikirkan strategi
pembelian rumah sendiri. Ingat, harga rumah sulit turun. Malah biasanya
terus naik seiring permintaan yang hampir selalu ada. Menunda pembelian
rumah artinya harus membayar lebih mahal kelak.
Posisi tinggal di rumah dinas atau menumpang rumah orangtua
sebenarnya memberi keuntungan dari sisi kocek. Anda tidak memiliki pos
pengeluaran khusus untuk biaya tempat tinggal. Misalnya, biaya sewa
rumah. Dengan begitu, sisa gaji tentu lebih banyak dan bisa kita tabung
untuk modal pembelian rumah, kata Budi.
Lantas, bagaimana strategi membeli rumah selagi kini Anda menumpang
rumah dinas atau rumah mertua? Silakan simak saran dan trik dari para
perencana keuangan berikut ini:
Tetapkan tujuan
Menetapkan tujuan bersama menjadi langkah awal yang perlu Anda
tempuh. Bicarakan dengan pasangan tentang rencana pembelian rumah
sendiri.
Pasangan suami istri harus kompak untuk mengumpulkan dana pembelian
rumah, kata Mike Rini, perencana keuangan dan Chief Executive Officer
MRE Financial & Business Advisory,
Dalam perencanaan keuangan, sebuah tujuan seperti pembelian rumah
harus spesifik. Misalnya, kapan dana pembelian akan digunakan, lalu
hendak membeli rumah atau apartemen, metode pembelian apakah tunai
bertahap atau lewat fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR) dari
perbankan.
Kemudian, kisaran harga rumah yang diincar berikut lokasi rumah, dan
sebagainya. Tujuan keuangan yang spesifik akan membuat Anda lebih
bersemangat dalam mewujudkannya.
Periksa kantong
Setelah mantap merencanakan pembelian rumah, saatnya menyusun
strategi pengumpulan dana. Tapi, sebelum ke sana, Anda perlu melihat
kemampuan kantong.
Seberapa besar kemampuan kocek Anda dalam membeli rumah? Pastikan
beban utang-utang konsumtif seperti kartu kredit sudah Anda bereskan.
Tujuannya, agar ruang fiskal di kantong lebih lega tanpa beban utang
konsumtif.
Periksa juga pos-pos pengeluaran. Menghemat pengeluaran yang bisa
dihemat agar dana yang Anda sisihkan untuk pembelian rumah bisa lebih
banyak.
Memeriksa kesehatan kantong juga penting untuk menilai jenis properti
yang mampu Anda beli. Tidak perlu memaksakan diri membeli yang jauh di
atas kemampuan kantong yang yang sebenarnya.
Terlebih jika Anda membeli melalui skema KPR dengan masa cicilan hingga puluhan tahun.
Skema pembelian
Skema pembelian
Harga rumah tidak murah. Mengumpulkan dana sekian ratus juta bahkan
mungkin lebih mustahil bisa dilakukan dengan cepat apabila posisi Anda
adalah karyawan bergaji bulanan kelas menengah.
Namun, dengan kemampuan finansial yang terbatas, memiliki rumah
bukanlah hal mustahil. Anda bisa memanfaatkan KPR dari perbankan sebagai
skema pembelian rumah.
Apabila memilih KPR, fokus pengumpulan dana pembelian bisa
dipersempit sebesar dana uang muka atau down payment (DP). Besar DP
umumnya sekitar 30% dari harga rumah.
Pastikan juga kantong Anda mampu untuk menanggung cicilan bulanan KPR
kelak. Maksimal beban total tanggungan utang, termasuk utang kartu
kredit, adalah 30% dari penghasilan. KPR merupakan salah satu jenis
utang produktif yang menguntungkan, imbuh Budi.
Akan tetapi, jika kantong cukup tebal, Anda bisa menimbang pembelian properti dengan cicilan bertahap ke pengembang.
Banyak developer menawarkan pembelian rumah dengan skema
cicilan 12 kali hingga 36 kali. Besar bunga dari developer biasanya
lebih kecil daripada bunga KPR bank.Mulai kumpulkan
Setelah bersepakat dengan pasangan tentang tujuan besar tersebut dan
menyesuaikan dengan kondisi kantong, saatnya kini menyisihkan pendapatan
untuk kebutuhan pembelian rumah.
Berapa yang harus kita sisihkan?
Budi menyarankan Anda untuk menyisihkan sekitar 15%-20% dari total penghasilan bulanan untuk keperluan dana pembelian rumah.
Sedangkan Mike menyarankan, paling tidak sebesar 30% dari total
penghasilan gabungan suami istri harus disisihkan setiap bulan untuk
dana pembelian rumah.
Begitu juga apabila ada pendapatan ekstra atau pendapatan tahunan,
seperti uang bonus kerja atau tunjangan hari raya (THR). Sisa pendapatan
sebanyak 70% alokasikan sebanyak 20% untuk dana darurat dan tujuan
keuangan lain, sedang 50% untuk biaya hidup sehari-hari, saran Mike.
Mike cenderung menyarankan untuk mengumpulkan dana uang muka (down
payment) pembelian rumah saja. Besarnya sekitar 30% dari harga rumah.
Beli rumahnya mencicil lewat KPR saja, kata dia.
Menabung atau investasi?
Menabung atau investasi?
Pandji Harsanto, perencana keuangan independen, berpendapat, apabila
target pembelian rumah adalah dua tahun mendatang, kumpulkan dananya di
tabungan saja karena risikonya minim.
Anda bisa memindahkannya ke deposito yang berbunga lebih tinggi
ketimbang tabungan biasa, saat dana telah mencapai nominal tertentu.
Pilih tenor deposito sesuai target waktu penggunaan dana.
Namun, jika target pemakaian dana di atas 5 tahun, lebih baik
berinvestasi saja. Dengan investasi, ada harapan dana berkembang dan
tidak tergerus inflasi, imbuh Budi.
Umumnya orang menabung dana pembelian rumah dalam jangka pendekmenengah antara 3 tahun hingga 5 tahun.
Sebagai contoh, Anda ingin membeli rumah seharga Rp800 juta saat ini,
empat tahun lagi. Jadi, Anda harus menyiapkan DP sekitar Rp240 juta.
Dengan asumsi inflasi harga properti 15% per tahun, maka besar DP tahun
2018 mencapai Rp419,76 juta.
Kebutuhan dana sebesar itu bisa terkumpul dengan menyisihkan dana
Rp5,06 juta per bulan selama empat tahun, di instrumen investasi dengan
return 25% per tahun.
Nah, bagaimana jika Anda ingin mengejar pembelian rumah sekarang
karena menimbang risiko inflasi, namun dana DP belum cukup? Bolehkah
berutang untuk menutupnya?
Pandji menilai, berutang untuk menutup kebutuhan DP boleh ditempuh
hanya jika beban cicilannya mampu Anda tanggung berikut cicilan KPR
kelak. Ingat rumus penting: total beban utang tidak boleh lebih dari 30%
dari penghasilan.
Upayakan mencari pinjaman lunak tanpa bunga dari pemberi kerja atau
kerabat. Alternatif lain, saran Mike, carilah unit rumah yang DP-nya
bisa dicicil. Biasanya, proyek rumah yang masih inden memberi fasilitas
cicil DP, kata Mike.
Namun, ingat, membeli properti inden juga memiliki risiko wanprestasi
jika reputasi developer kurang bagus. Pilih properti dari pengembang
tepercaya agar lebih aman.
Siap-siap biaya lain
Membeli rumah melahirkan rentetan biaya lain yang juga perlu
disiapkan dananya, antara lain, bea perolehan hak atas tanah dan
bangunan (BPHTB), biaya provisi, biaya administrasi, biaya notaris,
biaya appraisal, kemudian asuransi kebakaran. Juga ada biaya balik nama
antara Rp3 juta hingga Rp5 juta, ungkap Mike.
Yang tak kalah penting, pilih rumah yang cukup dekat dengan fasilitas
publik, seperti KRL, pasar, dan rumahsakit. Juga, tidak perlu tergiur
tawaran pembelian properti berhadiah langsung. Karena, tidak ada makan
siang gratis, tegas Mike.
Nah, kini, saatnya Anda menyusun strategi sendiri.
(Ruisa Khoiriyah)
Sumber : ["kontan.co.id/http://intisari.grid.id/Finance/Jangan-Terlena-Teduhnya-Rumah-Mertua-Hingga-Lupa-Bangun-Rumah-Sendiri/Menabung-Atau-Investasi

0 Response to "Jangan Terlena ‘Teduhnya’ Rumah Mertua Hingga Lupa Bangun Rumah Sendiri"
Post a Comment