iklan

Umi, Perhatikan Hal Ini Sebelum “Pamer” Anak

ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
Umi, Perhatikan Hal Ini Sebelum “Pamer” Anak
Umi, Perhatikan Hal Ini Sebelum “Pamer” Anak

Umi, sebagai orang tua, tidak ada salahnya jika kita merasa bangga terhadap pencapaian anak. Tidak ada salahnya pula, apabila kita memuji keberhasilan anak untuk memotivasi mereka agar dapat lebih bersemangat.
Akan tetapi, kita harus mampu membedakan rasa bangga terhadap anak dengan membanggakan anak. Karena membanggakan anak bisa berujung pada “pamer” akan keberhasilan anak yang nantinya akan banyak mendatangkan hal madharat.
Beberapa mudharat ketika kita memamerkan anak misalnya:
1. Menimbulkan rasa iri dari orang yang mendengarnya meskipun itu hanya dalam hati
Ada banyak cara untuk menginspirasi orang lain yang tidak terkesan pamer. Orang lain justru akan muak jika kita selalu bercerita “kalau anakku … kalau anakku …”
Kapan kita bertanya tentang anak orang lain kalau begitu? Bukankah dunia ini isinya tidak hanya kita saja? Seperti misalnya, daripada selalu bercerita anak kita rangking satu dan masuk sebagai siswa berprestasi akan lebih baik jika langsung buka les-lesan gratis bagi anak-anak sekitar rumah yang kurang beruntung.
Yang kedua lebih terasa nyata dibandingkan yang pertama. Ibarat pohon, sikap yang pertama adalah pohon rimbun tak berbuah sedangkan yang kedua berbuah lebat. Mana yang lebih bermanfaat? Yang hanya sekadar untuk pamer-pameran semata atau yang bisa bermanfaat untuk sekitar?
 2. Justru menjadi beban untuk diri kita sendiri
Tidak selamanya anak kita berada pada posisi puncak, ada kalanya mungkin di tengah atau di bawah. Tidak selamanya anak kita mendapatkan peringkat pertama, ada kalanya mendapat peringkat belasan atau bahkan tidak sama sekali.
 3. Di atas langit masih ada langit
Kalau toh anak kita memang cerdas, masih banyak di luar sana yang jauh lebih cerdas dan sikap orang tuanya tidak berlebihan. Seperti kata pepatah, “di atas langit masih ada langit,”
4. Kurang menghargai orang lain yang “berbeda”
“Anakku dong masuk jurusan itu. Yang masuk jurusan itu emang yang pintar-pintar,”
“Kok masuk sekolah itu, emang ada masa depannya?”
“Kok masuk jurusan anu, enggak diterima di jurusan itu ya?”
Setiap anak itu unik dan berbeda. Sebenarnya, setiap orangtua sudah paham ini, sih. Hanya saja dalam praktiknya, orangtua seolah masih sulit menerima yang berbeda, salah satunya dengan merasa apa yang dipilih anaknya jauh lebih baik daripada apa yang dipilih anak orang lain.
Sikap fanatik seperti ini hanya akan semakin menunjukkan bahwa orangtua masih bersikap kekanak-kanakan.  Saudaraku, mengutip kata-kata Einstein (dengan sedikit edit) bahwa setiap anak itu istimewa dan jenius, namun jika anak yang ahli berenang dan kurang ahli berhitung dipaksa untuk berhitung sebagai tolak ukur kecerdasan, maka selamanya anak yang memiliki potensi di bidang renang itu akan menganggap dirinya tidak bisa apa-apa.
Semoga kita bisa menjadi orangtua yang bijak. Anak kita cerdas, anak teman kita juga cerdas, di bidang masing-masing yang nanti bisa dikolaborasikan, bukan dibandingkan.  []
Sumber: Ummi Online
Gambar : soniazone
ADSENSE 336 x 280 dan ADSENSE Link Ads 200 x 90

0 Response to "Umi, Perhatikan Hal Ini Sebelum “Pamer” Anak"

Post a Comment